Kenaikan Tajam Saham Timah (TINS) Mencapai 10%: Apa yang Memicu Lonjakan Mendadak Ini?

Kenaikan Tajam Saham Timah (TINS) Mencapai 10%: Apa yang Memicu Lonjakan Mendadak Ini?

Macan.newsEmiten BUMN pertambangan logam, PT Timah Tbk (TINS), mencatatkan lonjakan tajam pada perdagangan sesi II Selasa (16/4/2024), menarik perhatian para pelaku pasar. Saham TINS mengalami kenaikan sebesar 10%, mencapai posisi Rp 990/saham, dibandingkan dengan rentang harga sebelumnya yang berkisar antara Rp 900 – Rp 1.005 per saham.

Selama sesi II, saham TINS diperdagangkan sebanyak 13.937 kali dengan volume transaksi mencapai 141,14 juta lembar saham, dan nilai transaksi mencapai Rp 137,04 miliar. Kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 7,37 triliun.

Read More

Dari data orderbook, terlihat bahwa harga Rp 985/saham menjadi yang paling banyak diminati oleh pembeli, sedangkan posisi harga Rp 1.000/saham menjadi yang paling banyak ditawarkan oleh penjual.

Kenaikan harga saham TINS ini sejalan dengan naiknya harga timah secara global. Dilansir dari Financial Times, kontrak berjangka aluminium, nikel, dan tembaga mengalami kenaikan signifikan setelah Inggris dan Amerika Serikat memberlakukan sanksi larangan perdagangan pasokan baru logam dari Rusia.

Aluminium, nikel, dan tembaga merupakan logam penting dalam berbagai industri, dan kenaikan harga tersebut disebabkan oleh ketegangan geopolitik serta sanksi terhadap Rusia, yang merupakan produsen utama ketiga ketiga logam tersebut di dunia.

Selain itu, harga timah di London Metal Exchange (LME) juga meroket mendekati level tertinggi dalam dua tahun karena penurunan stok di bursa dan ancaman terhadap rantai pasokan yang sudah tertekan.

Walau begitu, kasus korupsi yang menjerat beberapa produsen lokal dalam industri tata niaga timah di Indonesia tidak memberikan dampak negatif pada pasar global. Pasokan yang terbatas menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga timah dan kinerja saham TINS.

Baca Juga :   Gibran Kunjungi Rumah AHY Bicara Empat Mata Di Saat Isu Cawapres Prabowo

Indonesia, sebagai produsen timah terbesar kedua di dunia setelah China, menghasilkan sebagian besar produksi dari Bangka Belitung. Meskipun tengah menghadapi proses hukum terkait dugaan kerugian lingkungan, dampaknya terhadap pasar global masih dalam kajian.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *